Connect with us

Hi, what are you looking for?

Culinary

Usaha Kuliner Kuningan: “Bertahan Pada Masa Pandemi Covid-19”

KUNINGAN (MASS) – Status sebagai pandemi dari kondisi penyebaran corona virus desease atau disingkat dengan Covid-19 ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mulai tanggal 11 Maret 2020. Status tersebut disematkan karena sejak bermula pada Desember 2019 lalu di Wuhan, China, Covid-19 telah menyebar secara global ke seluruh belahan benua dan menginfeksi manusia dengan total 59.401.413 kasus dengan 1.401.106 orang meninggal dunia (news.google.com, diakses pada 25 November 2020).

Pandemi Covid-19 mendorong ekonomi ke dalam great lockdown, membantu menahan penyebaran virus dan menyelamatkan hidup, tetapi juga memicu pelambatan ekonomi tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Seluruh sendi ekonomi terdampak, baik usaha barang maupun jasa. Pemulihan bisnis dapat berlangsung lama dan sangat lambat. Industri layanan makanan minuman dan perhotelan telah menjadi salah satu bisnis yang terparah terkena dampak pandemi ini, melalui gangguan besar di sektor konsumen. Pemilik restoran harus berusaha mengelola dengan melihat model bisnis baru dan belajar beradaptasi dengan cara baru dalam melakukan sesuatu agar mampu bertahan dalam bisnis. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi Covid-19.  Berdasarkan sektornya, usaha akomodasi dan makan/minum merupakan yang paling banyak mengalami penurunan pendapatan, yakni 92,47% per 15 September 2020 (Katadata.co.id, diakses pada 01 November 2020).

Publikasi Kuningan dalam Angka Tahun 2021, menunjukkan bahwa Kabupaten Kuningan memiliki ketersediaan rumah makan yang bisa dikatakan cukup untuk sebuah kabupaten agraris, datanya ada pada infografis berikut ini:

Menurut Kotler “Kualitas produk adalah Karakteristik umum dari kemampuan suatu produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik atau implisit.” Hanya kualitas produk yang baik yang dapat memuaskan konsumen dan membuat konsumen percaya. Kepuasan pelanggan adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh produsen. Kepuasan pelanggan yang akan menyebabkan pembelian berulang atau loyalitas yang berkelanjutan hal ini bisa disebabkan oleh kebutuhan, keinginan, dan harapan dari konsumen yang dapat terlayani dengan baik.

Pandemi Covid-19 secara langsung berdampak pada pelaku usaha dari beberapa sisi perekonomian yaitu :

  1. Omzet / Penjualan
  2. Modal
  3. Distribusi

Ketiga sisi perkonomian tersebut apabila di alami secara bersama dalam sebuah unit usaha maka diyakini usaha tersebut terutama UMKM akan langsung terimbas dan terhempas ke dalam jurang ke bangkrutan.

Tabel diatas menunjukkan bahwa pandemic Covid-19 di Kabupaten Kuningan membuat pelaku usaha rumah makan / restaurant mengalami penurunan yang cukup besar dari 99 buah hanya menjadi 63 hanya dalam kurun waktu 1 (satu) tahun. Apabila dilakukan lebih dalam lagi hal ini jelas akan sangat berpengaruh pada pemutusan hubungan kerja bagi para pekerja rumah makan yang tutup tersebut.

Kekhawatiran akan tertular penyakit / wabah Covid-19 sepertinya menjadi alasan utama dari penurunan jumlah pengunjung rumah makan dan itu berlaku di semua daerah yang mengalami pandemi.

Dari sisi kunjungan penduduk ke rumah makan juga mengalami penurunan yang sama berikut informasi dan datanya:

Ada 2 (hal) besar yang akan menjadi pembeda bagi pelaku usaha termasuk pelaku usaha rumah makan dalam bertahan menghadapi pandemi ini, yaitu : pertama menjaga kualitas produksi dan kedua menjaga kualitas pelayanan. Dua hal ini yang diyakini akan mampu membuat pelaku usaha kuliner mampu bertahan pada masa pandemi Covid-19 ini.

KUALITAS PRODUKSI

Advertisement. Scroll to continue reading.

Setiap bisnis atau usaha yang sedang dijalankan, memang membutuhkan berbagai macam ide, strategi, modal, ketahanan mental dan pentingnya menjaga kualitas produk disaat usaha atau bisnis sudah mencapai tahap berjalan dan berkembang dengan pesat. Dalam era perdagangan bebas seperti sekarang ini, dimana per-saingan produk semakin marak, perkara kualitas produk dan pelayanan menjadi sangat penting untuk ditonjolkan. Sebab bila hal ini tidak ditonjolkan maka konsekuensi logisnya adalah bahwa kualitas produk dan pelayanan yang ditawarkan bisa tergeser oleh kualitas produk dan pelayanan lain yang sejenis, yang lebih meyakinkan konsumen. Sebuah produk memiliki implikasi penting bagi sebuah perusahaan karena tanpanya sebuah perusahaan tidak dapat melakukan apapun dalam bisnis. Pembeli merasa cocok, dan untuk pemasaran produk yang sukses, produk perlu disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pembeli. Singkatnya, pembuatan produk disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan preferensi konsumen.

Menurut Kotler dan Armstrong, terdapat indikator dalam mengukur sebuah kualitas produk, yaitu: 1) Penampilan, yaitu bentuk visual dari sebuah produk. 2) Selera, yaitu sebuah penilaian yang dirasa nyaman oleh seseorang dalam menetukan sebuah pilihan. 3) Rasa, yaitu sebuah atribut perasaan yang diterima atas sbuah perilaku. 4) Tekstur, yaitu bentuk dari sebuah produk. 5) Berbeda, yaitu ketika konsumen dapat membedakan produk satu dengan produk lainnya. Pelaku usaha terus memperbaiki kualitas produk dan jasanya. Peningkatan kualitas produk mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap produk dan jasa yang mereka beli dan mendorong mereka untuk melakukan pembelian ulang.

KUALITAS PELAYANAN

Selain meningkatkan kualitas produk, UMKM juga perlu meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Kualitas pelayanan menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan perusahaan agar dapat mampu bertahan dan tetap mendapat kepercayaan pelanggan. Anda dapat menyediakan layanan pembelian dan pengiriman secara online untuk meningkatkan layanan pelanggan. Hal ini dilakukan untuk membangun kepuasan dan loyalitas pelanggan. Menurut Tjiptono menjelaskan kualitas pelayanan yaitu upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketetapan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan konsumen.

Menurut Zeithaml, Berry dan Parasuraman menyatakan bahwa kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas pelayanan yang mereka peroleh. Harapan para pelanggan pada dasarnya sama dengan layanan seperti apa yang seharusnya diberikan oleh perusahaan kepada pelanggan. Harapan para pelanggan ini biasanya didasarkan pada informasi yang ia miliki terhadap jenis layanan tersebut.

Strategi pelayanan yang dilakukan oleh pelaku UMKM kuliner, seperti melayani dengan sabar, ramah, murah senyum, melayani kebutuhan konsumen dengan cepat, memberikan kesan yang baik, dan membuat konsumen merasa nyaman saat berbelanja. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh penjual mie ayam bapak ngadinem bahwa seorang muslim bila menjual barang, harus dengan senang hati, gembira, ikhlas, dan memberikan kesan yang baik terhadap pembeli. Pelayanan yang demikian ternyata mampu meningkatkan jumlah penjualan pedagang.

Menurut Zeithaml, Bitner, dan Gremler berpendapat bahwa kepuasan konsumen dipengaruhi oleh kualitas layanan yang diberikan oleh sebuah perusahaan. Terdapat lima dimensi kualitas layanan, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty

  1. Tangibles (Bukti langsung) meliputi penampilan fasilitas fisik seperti tata letak bangunan dan ruangan, ketersediaan tempat parkir, kebersihan ruangan, kerapian dan kenyamanan, keutuhan alat komunikasi dan penampilan pegawai Termasuk didalamnya..
  2. Reliability (Keandalan) yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan. Layanan yang dijanjikan akan memberikan informasi yang akurat, dukungan pemecahan masalah dan layanan yang dapat diandalkan.
  3. Responsiveness (Ketanggapan) yaitu kesediaan karyawan untuk membantu konsumen dan memberikan layanan yang cepat dan tanggap, artinya mencakup batasan layanan konsumen, kecepatan pemrosesan transaksi, dan konsumen pemrosesan pengaduan..
  4. Assurance (JaminanAssurance) meliputi pengetahuan karyawan terhadap produk secara tepat, kualitas keramahtamahan, perhatian dan kesopanan dalam memberi pelayanan, keterampilan dalam memberi informasi, kemampuan dalam memberikan keamanan, dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan.
  5. Emphaty (Empati) yaitu perhatian individu yang diberikan perusahaan kepada konsumennya, meliputi kemudahan berhubungan dengan perusahaan, kemampuan karyawannya untuk berkomunikasi dengan konsumen, dan upaya perusahaan untuk memahami kebutuhan dan kebutuhan konsumennya..

Dalam perbaiakan kualitas pelayanan UMKM juga menerapkan delivery order. Delivery Order adalah suatu layanan dalam perusahaan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam hal pemesanan suatu barang atau layanan jasa. Delivery Order merupakan sekumpulan proses manajerial yang memiliki fokus utama pada pelanggan dari semua layanan, yang menjamin bahwa layanan-layanan tersebut dapat digunakan sesuai fungsinya untuk mendukung kegiatan bisnis. Delivery Order sangat terkait dengan kepentingan-kepentingan pelanggan yaitu pihak bisnis dari sebuah perusahaan dalam hal utilisasi teknologi untuk membantu, mengoptimalisasi jalannya satu atau lebih proses bisnis.

Jadi delivery order/ Pengiriman makanan merupakan salah satu layanan makanan siap saji yang popular. Selain mempermudah konsumen dalam mendapatkan makanan, layanan ini juga membantu meningkatkan penjualan bagi perusahaan (rumah makan). Kebanyakan masyarakat modern saat ini cenderung lebih menyukai memesan makanan untuk diantar kerumah dan menikmatinya di rumah.

Sebagai sebuah saran terhadap strategi pemasaran bagi produk kuliner dan atau rumah makan maka dapat dilihat dengan menggunakan analisis SWOT sebagai berikut :

Advertisement. Scroll to continue reading.
  1. Strategi SO (Strengths, Opportunities), menggunakan indikator kekuatan dengan memanfaatkan peluang yang muncul, terdiri atas:
    • Membangun interaksi digital dengan target pasar untuk memperkenalkan identitas serta membuka ruang komunikasi digital dua arah antara pelaku usaha dan konsumen.
    • Membangun e-commerce melalui kolaborasi dengan platform online untuk mendekatkan diri dengan target pasar.
  2. Strategi WO (Weakness, Opportunities), memperbaiki indikator kelemahan untuk mampu menggunakan indikator peluang yang tersedia, terdiri atas:
      • Membangun promosi melalui media sosial.
      • Implementasi strategi pemasaran bundling.
  3. Strategi ST (Strengths, Threats), mendayagunakan indikator kekuatan yang ada agar mampu mengatasi indikator ancaman yang muncul, terdiri atas:
      • Mengembangkan menu berorientasi pada konsumen lokal.
      • Penerapan dan sertifikasi CHSE (Cleanliness/Kesehatan, Health/ Kesehatan, Safety/Keamanan, dan Environment Sustainability / Kelestarian Lingkungan) pada produk maupun lokasi usaha.
  4. Strategi WT (Weakness, Threats), meminimalisir indikator kelemahan agar dapat mengatasi indikator ancaman , terdiri atas:
      • Fokus penjualan online bagi produk tertentu pada segmen pasar khusus.
      • Informasi penerapan Prokes. melalui media sosial secara kontinu dan berkelanjutan.

Dengan terus menjaga mutu / kualitas produksi dan mutu / kualitas pelayanan serta terus mengadaptasi perkembangan tehnologi terkait pemasarannya maka pelaku usaha jasa kuliner / rumah makan akan mampu bertahan pada masa pandemic Covid-19 ini.

Asep Hermansyah SST (Statistisi Ahli Pertama BPS Kuningan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Hampir setahun lalu, kabar tidak mengenakan diumumkan oleh Pak Presiden. Tanggal 2 Maret 2020, kasus pertama covid-19 menjadi awal cerita kelam...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Ayo kita lihat pekarangan rumah kita, ada apa saja di sana? Sudahkah optimal untuk kemanfaatan? Nah, kalau ada yang masih kosong...

Netizenmass

KUNINGAN (MASS)- Merokok merupakan faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti hipertensi, penyakit paru-paru, penyakit jantung, penyakit ginjal, dll. Penyakit tersebut merupakan penyakit penyerta...

Law

KUNINGAN (MASS) – Firma hukum Konspirasi Keadilan didirikan pada hari Sabtu tanggal Delapan Belas, Bulan Januari tahun dua ribu dua puluh(18-01-2020) bertempat di Desa...

Advertisement