Connect with us

Hi, what are you looking for?

Netizen Mass

Ketika Internet Menjadi Senjata: Pemerintah Abai Biarkan Publik Dicengkram Korporasi Media Sosial

KUNINGAN (MASS) – Penggunaan internet di Indonesia telah mengalami pertumbuhan pesat, mencapai angka 215 juta atau hampir 80 persen dari total penduduk, menurut survei We Are Social dan HootSuit. Media sosial juga telah menjadi sarana utama bagi setiap individu dalam berinteraksi, mencari informasi terkini, dan memperluas jejaring sosial, termasuk di kalangan pelajar SMP dan SMA.

Namun dibalik kemajuan-kemajuan tersebut terdapat tantangan besar terkait tingkat literasi digital masyarakat Indonesia.

Peningkatan jumlah pengguna internet ternyata tidak sebanding dengan tingkat literasi digital di Indonesia. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 mengungkapkan bahwa subindeks keahlian dalam Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia menunjukkan skor yang paling rendah.

Literasi digital, yang mengacu pada kemampuan individu untuk memahami dan menggunakan internet secara bijak, ternyata masih memerlukan perhatian serius.

Salah satu permasalahan mendasar yang muncul akibat meningkatnya penggunaan internet adalah adanya perilaku tidak sopan di dunia maya. Berdasarkan laporan Digital Incivility Index yang dirilis oleh Microsoft pada tahun 2021, pengguna internet Indonesia diakui sebagai salah satu yang paling tidak sopan di Asia Tenggara.

Ujaran yang mendorong kebencian, intimidasi, dan penyebaran hoaks menjadi gejala yang meresahkan. Fenomena ini memiliki dampak sosial yang signifikan, mengingat ujaran kebencian dan hoaks bisa memperburuk perpecahan, sementara intimidasi dapat berdampak buruk pada kesehatan mental korbannya.

Dilema Sosial Media: Keuntungan Korporasi vs Kesejahteraan Pengguna

Platform media sosial dirancang untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna di platform tersebut. Mekanisme seperti pemberitahuan, iklan yang ditargetkan, dan algoritma konten yang adiktif semuanya diciptakan untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Akibatnya, kita seringkali mendapatkan informasi yang sesuai dengan pandangan kita sendiri, menciptakan “gelembung informasi” yang dapat memperkuat pandangan ekstrem dan memperlebar jurang pemahaman antara kelompok-kelompok yang berbeda.

Tantangan lainnya adalah kurangnya pemahaman tentang perlindungan data pribadi dan privasi online. Banyak pengguna yang tidak menyadari betapa pentingnya melindungi informasi pribadi dari ancaman dunia maya seperti peretasan dan pencurian identitas.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Data sebagai Mata Pencaharian Baru: Mengapa Privasi Penting?

Sebagaimana diungkap, data pengguna merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak platform sosial media. Setiap tindakan, klik, dan interaksi kita di internet menjadi data berharga yang dijual ke pengiklan. Dengan tidak menyadari betapa berharganya data kita, kita memberikan kekuasaan kepada perusahaan besar untuk memanipulasi perilaku kita demi keuntungan mereka.

Pendidikan mengenai praktik internet yang aman, termasuk penggunaan kata sandi yang kuat dan pemahaman tentang bagaimana data pribadi dapat diekspos dan disalahgunakan sangat diperlukan.

Untuk mengatasi tantangan ini diperlukan tindakan nyata.

Pertama, pendidikan literasi digital harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah. Hal ini akan membantu generasi muda memahami bahaya dan manfaat internet serta cara yang bijak dalam berinteraksi online.

Kedua, perlu adanya pembelajaran yang lebih luas mengenai etika berinternet dan konsekuensi dari perilaku negatif di dunia maya.

Selain itu, penting bagi pemerintah dan platform media sosial untuk bekerja sama dalam memerangi ujaran kebencian, penindasan, dan penyebaran hoaks. Mekanisme pengaduan yang efektif dan sanksi yang tegas dapat menjadi langkah awal dalam membersihkan lingkungan online.

Pengguna Internet di Indonesia juga harus bersikap kritis terhadap informasi yang mereka temukan di internet, dengan memverifikasi fakta sebelum membagikannya.

Pertumbuhan jumlah pengguna internet di Indonesia memberikan peluang yang luar biasa, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam hal literasi digital dan etika berinternet.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Untuk memastikan bahwa kita dapat menavigasi dunia digital dengan bijak, penting bagi semua pihak — pemerintah, pendidik, platform media sosial, dan masyarakat umum — untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan online yang lebih cerdas dan beradab.

Dengan cara ini, kita dapat menjadikan internet sebagai alat yang positif dan bermanfaat bagi semua orang.***

Penulis : Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, CEO Narasi Institute

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Lantaran habis masa bakti, kepemimpinan PD Salimah (Persaudaraan Muslimah) mengalami pergantian. Posisi ketua yang sebelumnya dijabat Faridha SPdI, kini diserahkan kepada...

Netizen Mass

Malam ini begitu menerawangBagikan gelap tak kunjung terangManakala hati sedang gundah gulanaMenuntun suatu isyarat untuk memenuhiYang dilalui untuk mengetahui Mulailah untuk menjadi akhirAkhirilah untuk...

Inspiration

KUNINGAN (MASS) – Cukup membanggakan. Warga Kuningan, Ninin Setianingsih yang menjabat Ketua PD Salimah Kab. Kuningan menjadi salah satu dari 45 penulis Buku Kisah...

Education

KUNINGAN (MASS) – Puluhan sekolah calon penerima penghargaan tingkat daerah (Raksa Buana), tingkat provinsi (Raksa Persada) dan tingkat nasional, dikumpulkan Sabtu (12/6/2021). Mereka diberikan...

Advertisement