Connect with us

Hi, what are you looking for?

Netizen Mass

Membangun Kemandirian Generasi Muda di Era Digital

KUNINGAN (MASS) – Wakil Bupati Kuningan, H.M Ridho Suganda, SH.,M.Si dalam acara Hyper Genetic dan Opening ARKS Store di Jl. Pramuka-Kuningan pada sabtu, 20 maret 2021 menyatakan bahwa di era sistem aplikasi dan digitalisasi yang berbasis teknologi informasi mutlak milik generasi muda, tidak mungkin pekerjaan dikerjakan oleh orang yang berusia 50 tahun ke atas. (Kuningankab.go.id, 20/3/2021)

Ini adalah apresiasi pemerintah terhadap generasi muda yang kreatif dan inovatif. Karena dengannya akan menyumbang kemajuan ekonomi daerah, apalagi di masa pandemi sekarang ini. Menurut Wakil Bupati, ini seakan membawa angin Segar bagi perekonomian di kabupaten Kuningan terutama di masa pandemi.

Nampaknya penguasaan generasi muda terhadap teknologi informasi yang berbasis digital kini menjadi perhatian utama. Nampak gencar upaya pemerintah mengeksplor potensi ini, dalam fokusnya menciptakan Sumber Daya Manusia talenta digital. Disebut-sebut demi mengejar proses adaptasi dengan era teknologi 4.1 yang berbasis digitalisasi.

Dalam laman aptika.kominfo.go.id (24/2/2020) menyebutkan bahwa SDM Talenta Digital ini sebagai komponen penting dalam Akselerasi Transformasi Digital. Menteri Kominfo, Johnny G. Plate saat pelantikan pejabat pimpinan tinggi Madya di Kemkominfo (23/12/2020) menyebutkan bahwa  Kominfo diharapkan dapat mengembangkan SDM Talenta Digital Nasional. Persoalan SDM menjadi perhatian serius Presiden Joko Widodo dalam akselerasi transformasi digital nasional.

Dalam menyiapkan itu semua Ditjen Aplikasi Informatika memiliki berbagai program dan kegiatan dalam mendukung penyiapan SDM dan talenta digital hingga tahun 2024 mendatang. Salah satunya literasi digital, sampai tahun 2024. Ditjen Aptika akan melakukan kegiatan literasi digital melalui GNLD Siberkreasi dengan menargetkan 50 juta masyarakat.

Proses literasi digital tersebut nantinya akan dibagi atas tiga jenis, yakni platform, framework, dan activation. Dalam menjalankan program literasi digital, GNLD Siberkreasi memiliki 108 mitra dari berbagai macam organisasi dan komunitas literasi digital.

Selain itu ada pula program 1000 Startup Digital yang akan membantu para entrepreneur dalam mengembangkan usahanya melalui platform digital. Ditjen Aptika juga mencoba menyentuh para pelaku UMKM serta petani dan nelayan agar bisa mengembangkan skill digitalnya untuk mengembangkan usahanya.

Program-program tersebut guna mendukung mewujudkan salah satu Visi Indonesia 2045, yakni Indonesia menjadi lima besar kekuatan ekonomi dunia dan menjadi negara berpendapatan tinggi pada tahun 2040.

Ia juga menuturkan untuk melakukan transformasi digital, Indonesia masih membutuhkan talenta digital sebanyak kurang lebih 9 juta orang untuk 15 tahun ke depan. Hal tersebut setara dengan 600 ribu rerata per tahun, sehingga membutuhkan sebuah persiapan yang matang dan serius untuk dilakukan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pertanyaan nya apakah talenta digital akan betul-betul bisa menciptakan kedaulatan dalam memajukan ekonomi negeri ini, dan tercapainya kekuatan ekonomi kelas dunia? Apakah regulasi ini terlepas dari proses kapitalisasi yang sejatinya sejak lama berlangsung di negeri ini?

Menarik dalam satu forum diskusi yang dilaksanakan dalam menyikapi Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021. Dimana bangkit merupakan program pembinaan 3.000 talenta digital terampil guna menyiapkan sembilan juta talenta digital terampil pada tahun 2030. (Kompas.com)

Diskusi ingin mengupas tuntas tentang mengapa potensi Sumber Daya Manusia generasi diarahkan untuk eksistensi korporasi?

Bukankah seharusnya generasi penerus diberi ruang optimal untuk meneruskan kepemimpinan dan melepaskan diri dari kebobrokan sistem demokrasi kapitalis ini? Menjadi generasi pembangun peradaban yang cerdas, maju, mandiri, dan bertakwa.

Lantas bagaimana seharusnya negara menjamin terwujudnya generasi?

Tak dinapikan generasi muda memiliki potensi besar dalam melakukan banyak hal untuk mengelola negara demi kemajuannya. Tak asing dengan istilah bahwa generasi muda adalah pemegang tongkat estafet kepemimpinan. Generasi muda tidak hanya harapan dalam memajukan ekonomi, akan tetapi dalam semua hal.

Upaya eksplorasi potensinya adalah hal yang harus dilakukan,bahkan memiliki kedudukan utama. Harmonisasi semua sistem dalam masyarakat sangat dibutuhkan, dari sistem pendidikan yang bertujuan mencetak generasi tangguh pemimpin peradaban, sistem sosial yang bertumpu pada kontrol sosial menjaga generasi tangguh, dan peran negara yang mensupport penuh semua sistem berjalan.

Hanya saja jika melihat proses mewujudkan SDM talenta digital yang sedang berlangsung di negeri ini, yaitu bagaimana mereka hanya digiring untuk bisa beradaptasi dengan teknologi informasi, rasanya sulit terbayang jika mereka bisa mewujudkan mimpi besar negeri ini yaitu memiliki kekuatan ekonomi dunia. Persoalannya semua aplikasi yang ada di dalam teknologi tersebut diciptakan oleh korporasi dunia. Sebut saja Google, Facebook, YouTube, Instagram, WhatsApp, dan lain-lain, semua didesain untuk kapitalisasi. Sehingga upaya pemerintah dalam menciptakan talenta digital tadi tidak lain upaya menjadikan generasi muda pengokoh ekonomi korporasi dunia.

Patut diketahui, sudah 100 tahun sistem yang berjalan di muka bumi ini adalah sistem kapitalis sekuler. Pengelolaan bumi sepenuhnya berada di bawah korporasi para pemilik modal. Sistem ekonomi liberal yang merupakan turunannya, menjadikan mereka selalu rakus dunia. Mengejar keuntungan materi tanpa memperhatikan halal haram menjadi tujuan utamanya. Berbagai cara mereka lakukan, hingga inovasi baru diciptakannya. Tekhnologi informasi diciptakan hanya untuk mewujudkan cara  yang lebih mudah menguasai ekonomi dunia. Indonesia dengan jumlah SDM terbanyak di dunia, SDA yang melimpah, posisi yang strategis, menjadi sasaran empuk mereka.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Betul tak bisa dipungkiri juga jika negeri ini akan maju, harus maju pula dalam menguasai teknologi dan inovasi, yaitu maju dalam digitalisasi semua sektor. Hanya saja jika dituntut hanya adaptasi dan transformation digital, yang sejatinya teknologi diciptakan para korporasi dunia demi kapitalisasi, bagaimana mungkin suatu negara (apalagi pembebek) bisa maju, dan berdaulat secara ekonomi?

Sejatinya negeri akan maju dan memperoleh kedaulatan secara ekonomi bahkan bisa mewujudkan kekuatan ekonomi dunia, jika negeri ini keluar dari cengkraman kapitalis dunia, dan beralih pada naungan ideologi Islam.

Ideologi Islam yang menetapkan bahwa pemimpin adalah penggembala sebagaimana sabda Rosulullah SAW akan memastikan pengelolaan negara di atas prinsip riayah umat (mengurusi umat). Diatas prinsip ini orientasi pemerintahannya adalah mewujudkan kemaslahatan umat berdasarkan hukum syari’ah, bukan kapitalisasi sebagaimana ideologi kapitalis sekuler.

Negara akan melakukan berbagai upaya dari cara yang paling strategis hingga teknis, mewujudkan kemaslahatan umat. Inovasi baru berupa teknologi sampaipun digitalisasi selama bisa membantu terealisasinya kemaslahatan, adalah hal yang harus. Negara akan mensupport penuh segala proses edukasi yang akan melahirkan generasi-generasi yang inovatif dan produktif. Negara akan mensupport penuh berbagai proses penelitian dan pengembangan untuk bisa menciptakan inovasi baru.

Generasi muda sejatinya akan dijaga oleh negara dalam segala haknya, dari hak hidupnya, hak berfikirnya, hak agamanya, hak hartanya, hak kemananannya, hingga hak kehormatannya. Negara hanya akan menghantarkannya menjadi generasi-generasi yang siap memimpin negara dengan ideologi Islam. Generasi-generasi cerdas, inovatif, produktif, maju, mandiri, dan bertaqwa. Negara akan memberikan Ruang optimal untuk meneruskan kepemimpinan dan keluar dari kebobrokan sistem kapitalis liberal.

Terakhir simaklah pernyataan berikut ini :

“Saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial adalah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat teknologi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme.” (Soekarno)

Wallahu a’lam bishshawwab.

Penulis : Fathimah Salma

Advertisement. Scroll to continue reading.

(Penggiat Literasi dan Pengelola Home Schooling Mandiri)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Lantaran habis masa bakti, kepemimpinan PD Salimah (Persaudaraan Muslimah) mengalami pergantian. Posisi ketua yang sebelumnya dijabat Faridha SPdI, kini diserahkan kepada...

Netizen Mass

Malam ini begitu menerawangBagikan gelap tak kunjung terangManakala hati sedang gundah gulanaMenuntun suatu isyarat untuk memenuhiYang dilalui untuk mengetahui Mulailah untuk menjadi akhirAkhirilah untuk...

Inspiration

KUNINGAN (MASS) – Cukup membanggakan. Warga Kuningan, Ninin Setianingsih yang menjabat Ketua PD Salimah Kab. Kuningan menjadi salah satu dari 45 penulis Buku Kisah...

Education

KUNINGAN (MASS) – Puluhan sekolah calon penerima penghargaan tingkat daerah (Raksa Buana), tingkat provinsi (Raksa Persada) dan tingkat nasional, dikumpulkan Sabtu (12/6/2021). Mereka diberikan...

Advertisement